Senin, 10 Februari 2014

PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN



TUJUAN
teknologi penyiapan bibit yang singkat, tidak memakan tempat dan berkualitas tentunya. Adapun teknik pembibitan yang dapat menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi serta tidak memerlukan penyiapan bibit melalui kebun berjenjang adalah dengan teknik pembibitan bud chip.

Bud chip adalah teknik pembibitan tebu secara vegetatif yang menggunakan bibit satu mata. Bibit ini berasal dari kultur jaringan yang kemudian ditanam di Kebun Bibit Pokok (KBP). Bibit yang di gunakan berumur 5 - 6 bulan, murni (tidak tercampur dengan varietas lain), bebas dari hama penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2012 di Pusat Penelitian Gula PTPN X (Persero).

ALAT DAN BAHAN

 Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi cangkul, chisel mortisier (alat pemotong batang tebu), hot water treatment (HWT), alat steam media tanam, tray, penggaris, oven, alat tulis, kamera, leaf area meter (LAM) dan jangka sorong.
Bahan yang digunakan antara lain tanaman tebu varietas PS 92-750, VMC 76-16 dan PS 862, tanah, pasir, kompos blotong N10, fungisida, insektisida dan ZPT.

CARA KERJA

1.     Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan Faktorial yang disusun secara acak kelompok. Percobaan ini terdapat 2 faktor, Faktor 1 ialah varietas (V) yang terdiri dari 3 macam, yaitu : (V1)Varietas PSJK 922, (V2)Varietas PS 862, (V3) Varietas VMC 76-16. Sedangkan faktor 2 ialah media tanam (M) dengan komposisi tanah : kompos : pasir yang terdiri dari 3 macam, yaitu : (M1) (10% : 70% : 20%, (M2) (70% : 20% : 10%) , (M3) (20% : 10% : 70%).
2.     Pengamatan dilakukan pada tiap tray perlakuan dengan 4 sampel non destruktif dan 18 tanaman destruktif. Parameter pengamatan non destruktif meliputi diameter batang, tinggi tanaman, jumlah ruas batang dan jumlah daun. Parameter pengamatan destruktif meliputi luas daun, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman. Data pengamatan yang diperoleh dianalis menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata (F hitung > F tabel 5%), maka akan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.





HASIL PENGAMATAN

Tabel 1 Rerata Tinggi Tanaman (cm tan-1) akibat Interaksi antara Perlakuan Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 hst
Perlakuan
Rerata Tinggi Tanaman (cm)
                                              M1
M2
M3
V1
14,17c
8,83ab
12,58bc
V2
8,75ab
9,29b
11,29bc
V3
7,25ab
9,29b
4,37a
BNT 5%
4,54







Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%;
 hst = hari setelah transplanting;
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)















Tabel 2 Rerata Jumlah Daun akibat Interaksi antara Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70, 80 dan 90 hst
Umur
Varietas
Rerata Jumlah Daun
M1
M2
M3
70 hst
V1
6,68c
4,75b
4,95b
V2
3,75b
5,08b
4,83b
V3
4,67b
4,912b
1,83a
BNT 5%
1,39
80 hst
V1
7,00b
4,92b
5,83b
V2
3,92a
5,67b
5,58b
V3
5,42b
5,00b
1,83a
BNT 5%
2,45
90 hst
V1
7,67d
5,92bcd
5,75bcd
V2
4,33b
6,17bcd
6,92cd
V3
5,83bcd
5,42bc
1,83a
BNT 5%
2,2





















Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan umur yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)


Diameter Batang
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tebu varietas PSJK 922, PS 862 dan VMC 76-16 dengan perlakuan komposisi media tanam tidak terjadi interaksi terhadap diameter batang pada beberapa umur.







Tabel 3 Rerata Jumlah Ruas Batang akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 dan 90 hst.
Umur
Varietas
Rerata Jumlah Ruas Batang
M1
M2
M3
70 hst
V1
3,33c
2,33b
2,75bc
V2
2,75bc
2,67bc
2,58bc
V3
2,42bc
2,67bc
1,00a
BNT 5%
0,85
90 hst
V1
3,58b
3,42b
3,08b
V2
2,75b
3,67b
3,58b
V3
3,67b
3,50b
1,00a
BNT 5%
1,42











Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan umur yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting;
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)













Tabel 4 Rerata Luas Daun (cm2 per tananam) akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 80 dan 90 hst

Umur
Varietas
Rerata Jumlah Luas Daun
M1
M2
M3
80 hst
V1
144,91c
119,52b
102,53b
V2
103,35b
116,13b
120,20b
V3
121,01b
111,64b
52,08a
BNT 5%
23,53
90 hst
V1
166,68d
127,45bc
114,93b
V2
133,66bcd
150,64cd
124,16bc
V3
171,93d
149,36bcd
52,08a
BNT 5%
34,86












Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)



Bobot Segar Total Tanaman
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tebu varietas PSJK 922, PS 862 dan VMC 76-16 dengan perlakuan komposisi media tidak terjadi interaksi terhadap rerata bobot segar total tanaman pada berbagai umur pengamatan.







Tabel 5 Rerata Bobot Kering Total Tanaman (g per tananam) akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 hst


Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%;
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862;
V3 = VMC 76-16;
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)









Perlakuan
Rerata Berat Kering Total Tanaman
M1
M2
M3
V1
5,06c
3,17b
3,28b
V2
3,50b
3,85b
3,18b
V3
2,56ab
2,53ab
2,15a
BNT 5%
0,95













PEMBAHASAN

Pertumbuhan tanaman merupakan fungsi dari genotip dan lingkungan. Interaksi antara genotip dan lingkungan menunjukkan bahwa ada pengaruh antara komposisi media tanam (tanah : pasir : kompos) dan varietas.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara komposisi media tanam dan varietas terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas batang, luas daun dan bobot kering total tanaman. Hal tersebut dikarenakan sifat dan fungsi dari komposisi media tanam berbeda.
Dalam budidaya tanaman tebu, bagian tanaman yang paling utama ialah batang. Selain dapat diamati tinggi tanaman, bagian batang juga dapat diamati diameter batang dan jumlah ruas batang. Hasil penelitian berdasarkan analisis ragam menunjukkan kombinasi perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata tinggi tanaman lebih tinggi (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena pada komposisi media M1 dengan prosentase tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) mengandung aplikasi kompos blotong yang lebih banyak sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin untuk tanaman terpenuhi. Menurut Brady (1990) bahwa bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui dekomposisi bahan organik. Kompos blotong adalah bahan organik yang mengandung unsur N tinggi. Unsur N dibutuhkan tanaman dalam merangsang proses pertumbuhan vegetatif tebu secara keseluruhan (batang, cabang, daun) sehingga dibutuhkan dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan unsur nitrogen dalam kompos dimanfaatkan tanaman tebu dalam mempengaruhi pertambahan tinggi tanaman.
Daun ialah organ utama fotosintesis pada tanaman. Meningkatnya jumlah daun tidak terlepas dari adanya aktifitas pemanjangan sel yang merangsang terbentuknya daun sebagai organ fotosintesis terutama pada tanaman tingkat tinggi (Gardner et al, 1991). Semakin banyak jumlah daun mengakibatkan tempat fotosintesis bertambah sehingga fotosintat yang dihasilkan juga semakin meningkat. Fotosintat tersebut didistribusikan ke organ-organ vegetatif tanaman sehingga memacu pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan umur 70, 80 dan 90 hst (Tabel 2) terdapat interaksi antara perlakuan V1 dan M1. Kombinasi perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata jumlah daun lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kompos blotong dengan prosentase yang lebih banyak mampu memberikan unsur nitrogen bagi tanaman. Dimana fungsi nitrogen bagi tanaman ialah sebagai pembentuk zat hijau daun, penyusun protein dan lemak. Adanya unsur nitrogen yang banyak di dalam tanaman digunakan oleh daun untuk berfotosintesis. Sehingga menghasilkan jumlah daun yang banyak, luas daun besar dan memperluas permukaan yang tersedia untuk fotosintesis. Apabila proses fotosintesis berjalan dengan baik maka fotosintat yang dihasilkan juga semakin meningkat untuk ditranslokasikan pada bagian tanaman yang lain. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pada pengamatan umur 80 dan 90 hst (Tabel 2) terdapat pengaruh nyata antara varietas dan media tanam pada variabel luas daun. Pada pengamatan umur 80 dan 90 hst, perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata luas daun lebih tinggi. Menurut Anonymous (2011) bahwa varietas PSJK 922 memiliki sifat daun yang sulit dikelentek sehingga mempengaruhi jumlah fotosintat yang dihasilkan. Hal ini juga membuktikan bahwa komposisi media M1 dengan perbandingan tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) baik digunakan sebagai media tanam karena mampu menyediakan unsur nitrogen yang dapat membantu tanaman untuk menghasilkan fotosintat yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanaman.
Pertumbuhan pada tumbuhan adalah faktor kompleks yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (Syiraini, 2011). Pertumbuhan tanaman tebu diawali dengan munculnya mata tunas. Mata tunas ialah kuncup tebu yang terletak pada buku-buku ruas batang. Kuncup ini tumbuh dari pangkal ke ujung batang yang tumbuh di sebelah kanan dan kiri batang berganti-ganti dan selalu terlindung oleh pangkal pelepah daun. Tunas yang tumbuh berpeluang menjadi batang tebu baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur pengamatan 70 dan 90 hst (Tabel 3) terdapat interaksi pada variabel jumlah ruas batang lebih tinggi pada perlakuan M1 pada semua varietas.
Selain bobot basah total tanaman, parameter pertumbuhan tanaman juga dapat diamati melalui bobot kering total tanaman. Terdapat interaksi pada parameter bobot kering total tanaman terhadap varietas dan komposisi media tanam pada umur pengamatan 70 hst (Tabel 5). Kombinasi perlakuan V1 dan M1 nyata memiliki rerata nilai bobot kering total tanaman lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari kedua faktor, baik dari faktor internal dan eksternal. Media tanam M1 memiliki komposisi tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) yang mampu meningkatkan bobot kering total tanaman secara nyata, karena komposisi media tanam yang tepat mengandung komposisi tanah : pasir dan kompos yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Disamping itu, prosentase kompos blotong yang tinggi memberikan nutrisi yang cukup bagi tanaman. Menurut Suharno et. al. (1997), pemberian blotong berpengaruh baik pada peningkatan bobot tebu. Varietas juga memberikan pengaruh yang nyata dalam peningkatan bobot kering tanaman. Sebaiknya pembibitan tebu (Saccharum officinarum L.) dengan teknik bud chip ditanam pada media dengan komposisi media tanah : pasir : kompos (10% : 20% : 70%) menggunakan varietas PSJK 922. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan metode perlakuan setelah pembibitan dalam tray.

KESIMPULAN

Terdapat interaksi antara komposisi media tanam dengan varietas terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas batang, luas daun dan berat kering total tanaman. Pembibitan tanaman tebu pada media dengan komposisi tanah : pasir : kompos (10% : 20% : 70%) menghasilkan nilai rerata diameter batang, jumlah ruas batang, luas daun, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi tanah : kompos : pasir (70% : 20% : 10%) dan (20% : 10% : 70%). Varietas PSJK 922 cocok ditanam pada media dengan komposisi tanah : kompos : pasir (10% : 20% : 70%).




DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. Deskripsi Varietas Tebu. Kediri

Brady, N. C. 1990. The Nature and Properties of Soils. 10th Edition. pp. 621. Macmillan Publishing Co., New York. http://yagipray.blogspot.com/ 2012/03/bahan-organik.html. Diakses tanggal 20 Maret 2012.

Gardner, P. F., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman
Budidaya. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta

Suharno, D., B. Novianto, dan D. Syarifuddin. 1997. Pengaruh





















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar