Senin, 10 Februari 2014

PENGARUH HERBISIDA



I.          PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Gulma berinteraksi dengan tanaman melalaui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan tergantung pada hujan, varitas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing.
Gulma merupakan jenis tumbuhan yan hidupnya atau keberadaannya tidak dikehendaki. Munculnya suatu gulma di sekitar areal tanaman dudidaya dapat dikendalikan dengan menggunakan bahan kimia yang dinamakan herbisida.
Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk nemekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil yang disebabkan oleh gulma. Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh dilahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopati, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan pengganggu tanaman. Bedasarkan struktur kimianya herbisida dapat dikenal sebagai herbisida anorganik dan organik. NaCL, H2SO4 dan CuSO4 merupakan contoh herbisida anorganik. Sedangkan Glifosat Melolakhlor dan Alakhlor merupakan contoh herbisida 
organik.
B.     Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah pengenalan herbisida ini adalah untuk mengetahui efisiensi herbisida kontak dan sistematis




II.        PEMBAHASAN
A.     Penggunaan Herbisida
Herbisida merupkan salah satu pestisida yang berfungsi mengendalikan gulma. Untuk keperluan pengendaliannya, gulma dibedakan menjadi 3 golongan.
1) gulma berdaun lebar, seperti Boreria alata, Chromolaena odorata, Mikania sp.;
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens.
3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga.
Herbisida purna-tumbuh yang bersifat selektif dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, golongan teki, dan beberapa jenis rumput. Keunggulan herbisida selektif ini adalah tidak membahayakan beberapa jenis tanaman pokok yang disarankan pada labelnya. Jadi, dengan menggunakan herbisida purna-tumbuh yang selektif, kita dapat mematikan gulma tanpa harus khawatir tanaman pokok rusak akibat semprotan herbisida.
Gulma yang tidak dapat dibasmi dengan herbisada selektif dapat dikendalikan dengan herbisida purna tumbuh yang berspektrum luas dan mampu membunuh hampir semua tumbuhan. Jika menggunakan herbisida ini diantara tanaman pokok yang telah tumbuh, penyemprotannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena kabut semprotnya dapat mematikan tanaman utama
Herbisida dibagi menjadi dua yaitu herbisida kontak dengan herbisida sistemis. Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas. Jaringan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang ditranslokasikan. Jika ada, bahan tersebut ditranslokasikan melalui phloem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan gulma dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian,rotasi pengendalian menjadi singkat.
Herbisida kontak memerlukan dosis dan air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan gulma dan diperoleh efek pengendalian aktifnya yang lebih baik. Herbisida kontak juga yang bekarja dengan cara menghasilkan radikal hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh konfigurasi sel. Herbisida kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup yan terkena larutan, jadi bagian tanaman dibawah tanah seperti akar atau akar rimpang tidak terpengaruhi, dan bagian tanaman didapat kembali dan diproses kerja pada herbisida ini pun sangat cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudan layu dan 2-3 hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan. Kelemahannya, gulma akan tumbuh secara cepat sekitar 2 minggu kemudian dan herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses kerjanya tidak berpengaruh pada gulma. Contoh herbisida kontak adalah paraquat.
Herbisida sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan keseluruh tubuh atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya. Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara mengganggu proses fisiologi jaringan tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas, sampai keperakarannya. Keistimewaannya, dapat mematikan tunas – tunasyang ada dalam tanah, sehingga menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya hampir sama merata ke seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian, proses pertumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama. contoh : Herbisida Sistemik : Rambo Gold 480SL
B. Cara kerja Herbbisida
Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan.
Contoh:
l  glifosat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
l  fosfinositrin mengganggu asimilasi nitrat dan amonium karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.
C. Kritik atas pemakaian herbisida
Pemakaian herbisida menuai kritik karena menyebarkan bahan kimia yang berbahaya bagi tumbuhan bukan sasaran. Meskipun sebagian besar herbisida masa kini tidak berbahaya bagi manusia dan hewan, herbisida yang tersebar (karena terbawa angin atau terhanyut air) berpotensi mengganggu pertumbuhan tumbuhan lainnya. Karena itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah terurai oleh mikroorganisme di tanah atau air.
Kritik lainnya ditujukan pada pemakaian tanaman transgenik tahan herbisida tertentu. Meskipun dapat menekan biaya, teknologi ini bermotifkan komersial (meningkatkan penggunaan herbisida merek tertentu). Selain itu, teknologi ini dianggap tidak bermanfaat bagi pertanian non mekanik (pertanian dengan padat karya) atau berlahan sempit.
Pestisida selain bermanfaat, juga menghasilkan dampak lingkungan. Disamping bermanfaat untuk meningkatkan hasil pertanian, ia juga menghasilkan dampak buruk baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Lebih dari 98% insektisida dan 95% herbisidamenjangkau tempat selain yang seharusnya menjadi target, termasuk spesies non-target, perairan, udara, makanan, dan sedimen. Pestisida dapat menjangkau dan mengkontaminasi lahan dan perairan ketika disemprot secara aerial, dibiarkan mengalir dari permukaan ladang, atau dibiarkan menguap dari lokasi produksi dan penyimpanan. Penggunaan pestisida berlebih justru akan menjadikan hama dan gulma resistan terhadap pestisida




Tumbuhan

Penyemprotan pestisida pada tanaman
Pestisida menghalangi proses pengikatan nitrogen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Insektisida DDT, metil paration, dan pentaklorofenol diketahui mengganggu hubungan kimiawi antara tanaman legum dan bakteri rhizobium. Dengan berkurangnya hubungan simbiotik antara keduanya menyebabkan pengikatan nitrogen menjadi terganggu sehingga mengurangi hasil tanaman pertanian. Bintil akar pengikat nitrogen yang terbentuk pada tanaman ini diketahui telah berkontribusi US$ 10 miliar setiap tahunnya dalam penghematan pupuk nitrogen sintetis.
Pestisida dapat membunuh lebah dan berakibat buruk terhadap proses penyerbukan tumbuhan, hilangnya spesies tumbuhan yang bergantung pada lebah dalam penyerbukannya, dan keruntuhan koloni lebah. Penerapan pestisida pada tanaman yang sedang berbunga dapat membunuh lebah madu yang akan hinggap di atasnya. USDA dan USFWS memperkirakan petani di Amerika Serikat kehilangan setidaknya US$ 200 juta per tahunnya akibat berkurangnya polinator untuk tanaman mereka. Di sisi lain, pestisida juga memiliki dampak langsung yang merugikan bagi tumbuhan, seperti rendahnya pertumbuhan rambut akar, penguningan tunas, dan terhambatnya pertumbuhan.

III.                   PENUTUP

  1. Kesimpulan
Penggunaan pestisida kontak dan sistemis mempunyai keuntungan masing – masing yang tergantung atas kebutuhanya dan dihrapkan dengan pengetahuan yang cukup ini kita dapat mengetahui cara kerja dan efek yang akan ditimbulkan dari aplikasi herbisida ini.

B.     Saran
Sebelum dilakukan pengendalian terhadap gulma, terlebih dahulu perlu kita mengenali terlebih dahulu herbisida yang akan digunakan agar sesuai dengan apa yang kita harapkan. Selain itu perlu juga kita mengetahui penggolongan dari gulma agar dapat ditentukan herbisida yang tepat untuk penggunaannya, dan waktu pemberiannya.



DAFTAR PUSTAKA


·         Rukmana, R. Dan S. Saputra.1999. Gulma dan Teknik Pengendaliannya.Kanisius. Yogyakarta
·         Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya Diperkebunan Karet Sumatra Utara dan Aceh. PT. Granmedia, Jakarta, 269 hal.
·         Sukman, Y. Dan Yakub.1991. Gulma dan Teknis Pengendaliannya.Rajawali. Jakarta











PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN



TUJUAN
teknologi penyiapan bibit yang singkat, tidak memakan tempat dan berkualitas tentunya. Adapun teknik pembibitan yang dapat menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi serta tidak memerlukan penyiapan bibit melalui kebun berjenjang adalah dengan teknik pembibitan bud chip.

Bud chip adalah teknik pembibitan tebu secara vegetatif yang menggunakan bibit satu mata. Bibit ini berasal dari kultur jaringan yang kemudian ditanam di Kebun Bibit Pokok (KBP). Bibit yang di gunakan berumur 5 - 6 bulan, murni (tidak tercampur dengan varietas lain), bebas dari hama penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2012 di Pusat Penelitian Gula PTPN X (Persero).

ALAT DAN BAHAN

 Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi cangkul, chisel mortisier (alat pemotong batang tebu), hot water treatment (HWT), alat steam media tanam, tray, penggaris, oven, alat tulis, kamera, leaf area meter (LAM) dan jangka sorong.
Bahan yang digunakan antara lain tanaman tebu varietas PS 92-750, VMC 76-16 dan PS 862, tanah, pasir, kompos blotong N10, fungisida, insektisida dan ZPT.

CARA KERJA

1.     Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan Faktorial yang disusun secara acak kelompok. Percobaan ini terdapat 2 faktor, Faktor 1 ialah varietas (V) yang terdiri dari 3 macam, yaitu : (V1)Varietas PSJK 922, (V2)Varietas PS 862, (V3) Varietas VMC 76-16. Sedangkan faktor 2 ialah media tanam (M) dengan komposisi tanah : kompos : pasir yang terdiri dari 3 macam, yaitu : (M1) (10% : 70% : 20%, (M2) (70% : 20% : 10%) , (M3) (20% : 10% : 70%).
2.     Pengamatan dilakukan pada tiap tray perlakuan dengan 4 sampel non destruktif dan 18 tanaman destruktif. Parameter pengamatan non destruktif meliputi diameter batang, tinggi tanaman, jumlah ruas batang dan jumlah daun. Parameter pengamatan destruktif meliputi luas daun, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman. Data pengamatan yang diperoleh dianalis menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata (F hitung > F tabel 5%), maka akan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.





HASIL PENGAMATAN

Tabel 1 Rerata Tinggi Tanaman (cm tan-1) akibat Interaksi antara Perlakuan Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 hst
Perlakuan
Rerata Tinggi Tanaman (cm)
                                              M1
M2
M3
V1
14,17c
8,83ab
12,58bc
V2
8,75ab
9,29b
11,29bc
V3
7,25ab
9,29b
4,37a
BNT 5%
4,54







Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%;
 hst = hari setelah transplanting;
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)















Tabel 2 Rerata Jumlah Daun akibat Interaksi antara Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70, 80 dan 90 hst
Umur
Varietas
Rerata Jumlah Daun
M1
M2
M3
70 hst
V1
6,68c
4,75b
4,95b
V2
3,75b
5,08b
4,83b
V3
4,67b
4,912b
1,83a
BNT 5%
1,39
80 hst
V1
7,00b
4,92b
5,83b
V2
3,92a
5,67b
5,58b
V3
5,42b
5,00b
1,83a
BNT 5%
2,45
90 hst
V1
7,67d
5,92bcd
5,75bcd
V2
4,33b
6,17bcd
6,92cd
V3
5,83bcd
5,42bc
1,83a
BNT 5%
2,2





















Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan umur yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)


Diameter Batang
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tebu varietas PSJK 922, PS 862 dan VMC 76-16 dengan perlakuan komposisi media tanam tidak terjadi interaksi terhadap diameter batang pada beberapa umur.







Tabel 3 Rerata Jumlah Ruas Batang akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 dan 90 hst.
Umur
Varietas
Rerata Jumlah Ruas Batang
M1
M2
M3
70 hst
V1
3,33c
2,33b
2,75bc
V2
2,75bc
2,67bc
2,58bc
V3
2,42bc
2,67bc
1,00a
BNT 5%
0,85
90 hst
V1
3,58b
3,42b
3,08b
V2
2,75b
3,67b
3,58b
V3
3,67b
3,50b
1,00a
BNT 5%
1,42











Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan umur yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting;
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)













Tabel 4 Rerata Luas Daun (cm2 per tananam) akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 80 dan 90 hst

Umur
Varietas
Rerata Jumlah Luas Daun
M1
M2
M3
80 hst
V1
144,91c
119,52b
102,53b
V2
103,35b
116,13b
120,20b
V3
121,01b
111,64b
52,08a
BNT 5%
23,53
90 hst
V1
166,68d
127,45bc
114,93b
V2
133,66bcd
150,64cd
124,16bc
V3
171,93d
149,36bcd
52,08a
BNT 5%
34,86












Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)



Bobot Segar Total Tanaman
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tebu varietas PSJK 922, PS 862 dan VMC 76-16 dengan perlakuan komposisi media tidak terjadi interaksi terhadap rerata bobot segar total tanaman pada berbagai umur pengamatan.







Tabel 5 Rerata Bobot Kering Total Tanaman (g per tananam) akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 hst


Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf 5%;
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862;
V3 = VMC 76-16;
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)









Perlakuan
Rerata Berat Kering Total Tanaman
M1
M2
M3
V1
5,06c
3,17b
3,28b
V2
3,50b
3,85b
3,18b
V3
2,56ab
2,53ab
2,15a
BNT 5%
0,95













PEMBAHASAN

Pertumbuhan tanaman merupakan fungsi dari genotip dan lingkungan. Interaksi antara genotip dan lingkungan menunjukkan bahwa ada pengaruh antara komposisi media tanam (tanah : pasir : kompos) dan varietas.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara komposisi media tanam dan varietas terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas batang, luas daun dan bobot kering total tanaman. Hal tersebut dikarenakan sifat dan fungsi dari komposisi media tanam berbeda.
Dalam budidaya tanaman tebu, bagian tanaman yang paling utama ialah batang. Selain dapat diamati tinggi tanaman, bagian batang juga dapat diamati diameter batang dan jumlah ruas batang. Hasil penelitian berdasarkan analisis ragam menunjukkan kombinasi perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata tinggi tanaman lebih tinggi (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena pada komposisi media M1 dengan prosentase tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) mengandung aplikasi kompos blotong yang lebih banyak sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin untuk tanaman terpenuhi. Menurut Brady (1990) bahwa bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui dekomposisi bahan organik. Kompos blotong adalah bahan organik yang mengandung unsur N tinggi. Unsur N dibutuhkan tanaman dalam merangsang proses pertumbuhan vegetatif tebu secara keseluruhan (batang, cabang, daun) sehingga dibutuhkan dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan unsur nitrogen dalam kompos dimanfaatkan tanaman tebu dalam mempengaruhi pertambahan tinggi tanaman.
Daun ialah organ utama fotosintesis pada tanaman. Meningkatnya jumlah daun tidak terlepas dari adanya aktifitas pemanjangan sel yang merangsang terbentuknya daun sebagai organ fotosintesis terutama pada tanaman tingkat tinggi (Gardner et al, 1991). Semakin banyak jumlah daun mengakibatkan tempat fotosintesis bertambah sehingga fotosintat yang dihasilkan juga semakin meningkat. Fotosintat tersebut didistribusikan ke organ-organ vegetatif tanaman sehingga memacu pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan umur 70, 80 dan 90 hst (Tabel 2) terdapat interaksi antara perlakuan V1 dan M1. Kombinasi perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata jumlah daun lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kompos blotong dengan prosentase yang lebih banyak mampu memberikan unsur nitrogen bagi tanaman. Dimana fungsi nitrogen bagi tanaman ialah sebagai pembentuk zat hijau daun, penyusun protein dan lemak. Adanya unsur nitrogen yang banyak di dalam tanaman digunakan oleh daun untuk berfotosintesis. Sehingga menghasilkan jumlah daun yang banyak, luas daun besar dan memperluas permukaan yang tersedia untuk fotosintesis. Apabila proses fotosintesis berjalan dengan baik maka fotosintat yang dihasilkan juga semakin meningkat untuk ditranslokasikan pada bagian tanaman yang lain. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pada pengamatan umur 80 dan 90 hst (Tabel 2) terdapat pengaruh nyata antara varietas dan media tanam pada variabel luas daun. Pada pengamatan umur 80 dan 90 hst, perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata luas daun lebih tinggi. Menurut Anonymous (2011) bahwa varietas PSJK 922 memiliki sifat daun yang sulit dikelentek sehingga mempengaruhi jumlah fotosintat yang dihasilkan. Hal ini juga membuktikan bahwa komposisi media M1 dengan perbandingan tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) baik digunakan sebagai media tanam karena mampu menyediakan unsur nitrogen yang dapat membantu tanaman untuk menghasilkan fotosintat yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanaman.
Pertumbuhan pada tumbuhan adalah faktor kompleks yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (Syiraini, 2011). Pertumbuhan tanaman tebu diawali dengan munculnya mata tunas. Mata tunas ialah kuncup tebu yang terletak pada buku-buku ruas batang. Kuncup ini tumbuh dari pangkal ke ujung batang yang tumbuh di sebelah kanan dan kiri batang berganti-ganti dan selalu terlindung oleh pangkal pelepah daun. Tunas yang tumbuh berpeluang menjadi batang tebu baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur pengamatan 70 dan 90 hst (Tabel 3) terdapat interaksi pada variabel jumlah ruas batang lebih tinggi pada perlakuan M1 pada semua varietas.
Selain bobot basah total tanaman, parameter pertumbuhan tanaman juga dapat diamati melalui bobot kering total tanaman. Terdapat interaksi pada parameter bobot kering total tanaman terhadap varietas dan komposisi media tanam pada umur pengamatan 70 hst (Tabel 5). Kombinasi perlakuan V1 dan M1 nyata memiliki rerata nilai bobot kering total tanaman lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari kedua faktor, baik dari faktor internal dan eksternal. Media tanam M1 memiliki komposisi tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) yang mampu meningkatkan bobot kering total tanaman secara nyata, karena komposisi media tanam yang tepat mengandung komposisi tanah : pasir dan kompos yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Disamping itu, prosentase kompos blotong yang tinggi memberikan nutrisi yang cukup bagi tanaman. Menurut Suharno et. al. (1997), pemberian blotong berpengaruh baik pada peningkatan bobot tebu. Varietas juga memberikan pengaruh yang nyata dalam peningkatan bobot kering tanaman. Sebaiknya pembibitan tebu (Saccharum officinarum L.) dengan teknik bud chip ditanam pada media dengan komposisi media tanah : pasir : kompos (10% : 20% : 70%) menggunakan varietas PSJK 922. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan metode perlakuan setelah pembibitan dalam tray.

KESIMPULAN

Terdapat interaksi antara komposisi media tanam dengan varietas terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas batang, luas daun dan berat kering total tanaman. Pembibitan tanaman tebu pada media dengan komposisi tanah : pasir : kompos (10% : 20% : 70%) menghasilkan nilai rerata diameter batang, jumlah ruas batang, luas daun, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi tanah : kompos : pasir (70% : 20% : 10%) dan (20% : 10% : 70%). Varietas PSJK 922 cocok ditanam pada media dengan komposisi tanah : kompos : pasir (10% : 20% : 70%).




DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. Deskripsi Varietas Tebu. Kediri

Brady, N. C. 1990. The Nature and Properties of Soils. 10th Edition. pp. 621. Macmillan Publishing Co., New York. http://yagipray.blogspot.com/ 2012/03/bahan-organik.html. Diakses tanggal 20 Maret 2012.

Gardner, P. F., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman
Budidaya. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta

Suharno, D., B. Novianto, dan D. Syarifuddin. 1997. Pengaruh