I. PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Gulma
berinteraksi dengan tanaman melalaui persaingan untuk mendapatkan satu atau
lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat
persaingan tergantung pada hujan, varitas, kondisi tanah, kerapatan gulma,
lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai
bersaing.
Gulma
merupakan jenis tumbuhan yan hidupnya atau keberadaannya tidak dikehendaki.
Munculnya suatu gulma di sekitar areal tanaman dudidaya dapat dikendalikan dengan
menggunakan bahan kimia yang dinamakan herbisida.
Herbisida
adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk nemekan
atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil yang disebabkan oleh
gulma. Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman
pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh dilahan tersebut.
Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari,
dan atau keluarnya substansi alelopati, tumbuhan lain ini tidak diinginkan
keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian
tumbuhan pengganggu tanaman. Bedasarkan struktur kimianya herbisida dapat
dikenal sebagai herbisida anorganik dan organik. NaCL, H2SO4 dan CuSO4
merupakan contoh herbisida anorganik. Sedangkan Glifosat Melolakhlor dan
Alakhlor merupakan contoh herbisida
organik.
organik.
B. Tujuan
Tujuan dari
pembuatan makalah pengenalan herbisida ini adalah untuk mengetahui efisiensi
herbisida kontak dan sistematis
II. PEMBAHASAN
A.
Penggunaan Herbisida
Herbisida merupkan salah satu
pestisida yang berfungsi mengendalikan gulma. Untuk keperluan pengendaliannya,
gulma dibedakan menjadi 3 golongan.
1) gulma berdaun lebar, seperti Boreria alata, Chromolaena odorata, Mikania
sp.;
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens.
3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga.
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens.
3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga.
Herbisida purna-tumbuh yang
bersifat selektif dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, golongan
teki, dan beberapa jenis rumput. Keunggulan herbisida selektif ini adalah tidak
membahayakan beberapa jenis tanaman pokok yang disarankan pada labelnya. Jadi,
dengan menggunakan herbisida purna-tumbuh yang selektif, kita dapat mematikan
gulma tanpa harus khawatir tanaman pokok rusak akibat semprotan herbisida.
Gulma yang tidak dapat dibasmi
dengan herbisada selektif dapat dikendalikan dengan herbisida purna tumbuh yang
berspektrum luas dan mampu membunuh hampir semua tumbuhan. Jika menggunakan
herbisida ini diantara tanaman pokok yang telah tumbuh, penyemprotannya harus
dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena kabut semprotnya dapat mematikan
tanaman utama
Herbisida dibagi menjadi dua yaitu
herbisida kontak dengan herbisida sistemis. Herbisida kontak adalah herbisida
yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena
larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida
jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas
gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak
meluas. Jaringan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang
ditranslokasikan. Jika ada, bahan tersebut ditranslokasikan melalui phloem.
Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan gulma dapat
terjadi sangat cepat. Dengan demikian,rotasi pengendalian menjadi singkat.
Herbisida kontak memerlukan dosis dan
air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan
gulma dan diperoleh efek pengendalian aktifnya yang lebih baik. Herbisida
kontak juga yang bekarja dengan cara menghasilkan radikal hidrogen peroksida
yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh konfigurasi sel. Herbisida
kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup yan terkena larutan, jadi bagian
tanaman dibawah tanah seperti akar atau akar rimpang tidak terpengaruhi, dan
bagian tanaman didapat kembali dan diproses kerja pada herbisida ini pun sangat
cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama
bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Keistimewaannya, dapat
membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudan layu dan 2-3
hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera
dilakukan. Kelemahannya, gulma akan tumbuh secara cepat sekitar 2 minggu
kemudian dan herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses kerjanya tidak
berpengaruh pada gulma. Contoh herbisida kontak adalah paraquat.
Herbisida
sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan keseluruh tubuh
atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya.
Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman
pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman
yang terkena, namun bekerja dengan cara mengganggu proses fisiologi jaringan
tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan
sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas, sampai keperakarannya.
Keistimewaannya, dapat mematikan tunas – tunasyang ada dalam tanah, sehingga
menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya hampir sama merata ke
seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian,
proses pertumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi
pengendalian dapat lebih lama. contoh
: Herbisida Sistemik : Rambo Gold 480SL
B. Cara
kerja Herbbisida
Pada umumnya
herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting
seperti pati, asam lemak atau
asam amino
melalui kompetisi dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut.
Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi
kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain
adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang
diperlukan tumbuhan.
Contoh:
l glifosat
(dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena
berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
l fosfinositrin
mengganggu asimilasi nitrat dan amonium
karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.
C.
Kritik atas pemakaian herbisida
Pemakaian
herbisida menuai kritik karena menyebarkan bahan kimia yang berbahaya bagi
tumbuhan bukan sasaran. Meskipun sebagian besar herbisida masa kini tidak
berbahaya bagi manusia dan hewan, herbisida yang tersebar (karena terbawa angin
atau terhanyut air) berpotensi mengganggu pertumbuhan tumbuhan lainnya. Karena
itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah terurai oleh mikroorganisme di
tanah atau air.
Kritik
lainnya ditujukan pada pemakaian tanaman transgenik tahan herbisida tertentu.
Meskipun dapat menekan biaya, teknologi ini bermotifkan komersial (meningkatkan
penggunaan herbisida merek tertentu). Selain itu, teknologi ini dianggap tidak
bermanfaat bagi pertanian non mekanik (pertanian dengan padat karya) atau
berlahan sempit.
Pestisida selain bermanfaat, juga menghasilkan dampak lingkungan.
Disamping bermanfaat untuk meningkatkan hasil pertanian, ia juga menghasilkan
dampak buruk baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Lebih dari 98% insektisida dan 95% herbisidamenjangkau tempat selain yang
seharusnya menjadi target, termasuk spesies non-target, perairan, udara,
makanan, dan sedimen. Pestisida dapat menjangkau dan mengkontaminasi lahan dan
perairan ketika disemprot secara aerial, dibiarkan mengalir dari permukaan
ladang, atau dibiarkan menguap dari lokasi produksi dan penyimpanan. Penggunaan
pestisida berlebih justru akan menjadikan hama dan gulma resistan terhadap pestisida
Tumbuhan
Penyemprotan
pestisida pada tanaman
Pestisida
menghalangi proses pengikatan nitrogen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Insektisida DDT, metil paration, dan pentaklorofenol diketahui mengganggu hubungan kimiawi antara tanaman legum
dan bakteri rhizobium. Dengan berkurangnya hubungan simbiotik antara keduanya
menyebabkan pengikatan nitrogen menjadi terganggu sehingga mengurangi hasil
tanaman pertanian. Bintil akar
pengikat nitrogen yang terbentuk pada tanaman ini diketahui telah berkontribusi
US$ 10 miliar setiap tahunnya dalam penghematan pupuk nitrogen
sintetis.
Pestisida
dapat membunuh lebah dan berakibat buruk terhadap proses penyerbukan tumbuhan, hilangnya spesies tumbuhan yang bergantung pada
lebah dalam penyerbukannya, dan keruntuhan koloni lebah. Penerapan pestisida
pada tanaman yang sedang berbunga dapat membunuh lebah madu
yang akan hinggap di atasnya. USDA dan USFWS memperkirakan petani di Amerika Serikat kehilangan
setidaknya US$ 200 juta per tahunnya akibat berkurangnya polinator untuk
tanaman mereka. Di sisi lain, pestisida juga memiliki dampak langsung yang
merugikan bagi tumbuhan, seperti rendahnya pertumbuhan rambut akar, penguningan
tunas, dan terhambatnya pertumbuhan.
III. PENUTUP
- Kesimpulan
Penggunaan
pestisida kontak dan sistemis mempunyai keuntungan masing – masing yang
tergantung atas kebutuhanya dan dihrapkan dengan pengetahuan yang cukup ini
kita dapat mengetahui cara kerja dan efek yang akan ditimbulkan dari aplikasi
herbisida ini.
B.
Saran
Sebelum dilakukan pengendalian terhadap gulma, terlebih dahulu perlu
kita mengenali terlebih dahulu herbisida yang akan digunakan agar sesuai dengan
apa yang kita harapkan. Selain itu perlu juga kita mengetahui penggolongan dari
gulma agar dapat ditentukan herbisida yang tepat untuk penggunaannya, dan waktu
pemberiannya.
DAFTAR PUSTAKA
·
Rukmana, R. Dan S.
Saputra.1999. Gulma dan Teknik Pengendaliannya.Kanisius. Yogyakarta
·
Nasution, U. 1986.
Gulma dan Pengendaliannya Diperkebunan Karet Sumatra Utara dan Aceh. PT.
Granmedia, Jakarta, 269 hal.
·
Sukman, Y. Dan
Yakub.1991. Gulma dan Teknis Pengendaliannya.Rajawali. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar