Senin, 10 Februari 2014

PENGARUH HERBISIDA



I.          PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Gulma berinteraksi dengan tanaman melalaui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan tergantung pada hujan, varitas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing.
Gulma merupakan jenis tumbuhan yan hidupnya atau keberadaannya tidak dikehendaki. Munculnya suatu gulma di sekitar areal tanaman dudidaya dapat dikendalikan dengan menggunakan bahan kimia yang dinamakan herbisida.
Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk nemekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil yang disebabkan oleh gulma. Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh dilahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopati, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan pengganggu tanaman. Bedasarkan struktur kimianya herbisida dapat dikenal sebagai herbisida anorganik dan organik. NaCL, H2SO4 dan CuSO4 merupakan contoh herbisida anorganik. Sedangkan Glifosat Melolakhlor dan Alakhlor merupakan contoh herbisida 
organik.
B.     Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah pengenalan herbisida ini adalah untuk mengetahui efisiensi herbisida kontak dan sistematis




II.        PEMBAHASAN
A.     Penggunaan Herbisida
Herbisida merupkan salah satu pestisida yang berfungsi mengendalikan gulma. Untuk keperluan pengendaliannya, gulma dibedakan menjadi 3 golongan.
1) gulma berdaun lebar, seperti Boreria alata, Chromolaena odorata, Mikania sp.;
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens.
3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga.
Herbisida purna-tumbuh yang bersifat selektif dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, golongan teki, dan beberapa jenis rumput. Keunggulan herbisida selektif ini adalah tidak membahayakan beberapa jenis tanaman pokok yang disarankan pada labelnya. Jadi, dengan menggunakan herbisida purna-tumbuh yang selektif, kita dapat mematikan gulma tanpa harus khawatir tanaman pokok rusak akibat semprotan herbisida.
Gulma yang tidak dapat dibasmi dengan herbisada selektif dapat dikendalikan dengan herbisida purna tumbuh yang berspektrum luas dan mampu membunuh hampir semua tumbuhan. Jika menggunakan herbisida ini diantara tanaman pokok yang telah tumbuh, penyemprotannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena kabut semprotnya dapat mematikan tanaman utama
Herbisida dibagi menjadi dua yaitu herbisida kontak dengan herbisida sistemis. Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas. Jaringan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang ditranslokasikan. Jika ada, bahan tersebut ditranslokasikan melalui phloem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan gulma dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian,rotasi pengendalian menjadi singkat.
Herbisida kontak memerlukan dosis dan air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan gulma dan diperoleh efek pengendalian aktifnya yang lebih baik. Herbisida kontak juga yang bekarja dengan cara menghasilkan radikal hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh konfigurasi sel. Herbisida kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup yan terkena larutan, jadi bagian tanaman dibawah tanah seperti akar atau akar rimpang tidak terpengaruhi, dan bagian tanaman didapat kembali dan diproses kerja pada herbisida ini pun sangat cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudan layu dan 2-3 hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan. Kelemahannya, gulma akan tumbuh secara cepat sekitar 2 minggu kemudian dan herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses kerjanya tidak berpengaruh pada gulma. Contoh herbisida kontak adalah paraquat.
Herbisida sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan keseluruh tubuh atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya. Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara mengganggu proses fisiologi jaringan tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas, sampai keperakarannya. Keistimewaannya, dapat mematikan tunas – tunasyang ada dalam tanah, sehingga menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya hampir sama merata ke seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian, proses pertumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama. contoh : Herbisida Sistemik : Rambo Gold 480SL
B. Cara kerja Herbbisida
Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan.
Contoh:
l  glifosat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
l  fosfinositrin mengganggu asimilasi nitrat dan amonium karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.
C. Kritik atas pemakaian herbisida
Pemakaian herbisida menuai kritik karena menyebarkan bahan kimia yang berbahaya bagi tumbuhan bukan sasaran. Meskipun sebagian besar herbisida masa kini tidak berbahaya bagi manusia dan hewan, herbisida yang tersebar (karena terbawa angin atau terhanyut air) berpotensi mengganggu pertumbuhan tumbuhan lainnya. Karena itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah terurai oleh mikroorganisme di tanah atau air.
Kritik lainnya ditujukan pada pemakaian tanaman transgenik tahan herbisida tertentu. Meskipun dapat menekan biaya, teknologi ini bermotifkan komersial (meningkatkan penggunaan herbisida merek tertentu). Selain itu, teknologi ini dianggap tidak bermanfaat bagi pertanian non mekanik (pertanian dengan padat karya) atau berlahan sempit.
Pestisida selain bermanfaat, juga menghasilkan dampak lingkungan. Disamping bermanfaat untuk meningkatkan hasil pertanian, ia juga menghasilkan dampak buruk baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Lebih dari 98% insektisida dan 95% herbisidamenjangkau tempat selain yang seharusnya menjadi target, termasuk spesies non-target, perairan, udara, makanan, dan sedimen. Pestisida dapat menjangkau dan mengkontaminasi lahan dan perairan ketika disemprot secara aerial, dibiarkan mengalir dari permukaan ladang, atau dibiarkan menguap dari lokasi produksi dan penyimpanan. Penggunaan pestisida berlebih justru akan menjadikan hama dan gulma resistan terhadap pestisida




Tumbuhan

Penyemprotan pestisida pada tanaman
Pestisida menghalangi proses pengikatan nitrogen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Insektisida DDT, metil paration, dan pentaklorofenol diketahui mengganggu hubungan kimiawi antara tanaman legum dan bakteri rhizobium. Dengan berkurangnya hubungan simbiotik antara keduanya menyebabkan pengikatan nitrogen menjadi terganggu sehingga mengurangi hasil tanaman pertanian. Bintil akar pengikat nitrogen yang terbentuk pada tanaman ini diketahui telah berkontribusi US$ 10 miliar setiap tahunnya dalam penghematan pupuk nitrogen sintetis.
Pestisida dapat membunuh lebah dan berakibat buruk terhadap proses penyerbukan tumbuhan, hilangnya spesies tumbuhan yang bergantung pada lebah dalam penyerbukannya, dan keruntuhan koloni lebah. Penerapan pestisida pada tanaman yang sedang berbunga dapat membunuh lebah madu yang akan hinggap di atasnya. USDA dan USFWS memperkirakan petani di Amerika Serikat kehilangan setidaknya US$ 200 juta per tahunnya akibat berkurangnya polinator untuk tanaman mereka. Di sisi lain, pestisida juga memiliki dampak langsung yang merugikan bagi tumbuhan, seperti rendahnya pertumbuhan rambut akar, penguningan tunas, dan terhambatnya pertumbuhan.

III.                   PENUTUP

  1. Kesimpulan
Penggunaan pestisida kontak dan sistemis mempunyai keuntungan masing – masing yang tergantung atas kebutuhanya dan dihrapkan dengan pengetahuan yang cukup ini kita dapat mengetahui cara kerja dan efek yang akan ditimbulkan dari aplikasi herbisida ini.

B.     Saran
Sebelum dilakukan pengendalian terhadap gulma, terlebih dahulu perlu kita mengenali terlebih dahulu herbisida yang akan digunakan agar sesuai dengan apa yang kita harapkan. Selain itu perlu juga kita mengetahui penggolongan dari gulma agar dapat ditentukan herbisida yang tepat untuk penggunaannya, dan waktu pemberiannya.



DAFTAR PUSTAKA


·         Rukmana, R. Dan S. Saputra.1999. Gulma dan Teknik Pengendaliannya.Kanisius. Yogyakarta
·         Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya Diperkebunan Karet Sumatra Utara dan Aceh. PT. Granmedia, Jakarta, 269 hal.
·         Sukman, Y. Dan Yakub.1991. Gulma dan Teknis Pengendaliannya.Rajawali. Jakarta











Tidak ada komentar:

Posting Komentar