Senin, 24 Februari 2014
Senin, 10 Februari 2014
PENGARUH HERBISIDA
I. PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Gulma
berinteraksi dengan tanaman melalaui persaingan untuk mendapatkan satu atau
lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat
persaingan tergantung pada hujan, varitas, kondisi tanah, kerapatan gulma,
lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai
bersaing.
Gulma
merupakan jenis tumbuhan yan hidupnya atau keberadaannya tidak dikehendaki.
Munculnya suatu gulma di sekitar areal tanaman dudidaya dapat dikendalikan dengan
menggunakan bahan kimia yang dinamakan herbisida.
Herbisida
adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk nemekan
atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil yang disebabkan oleh
gulma. Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman
pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh dilahan tersebut.
Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari,
dan atau keluarnya substansi alelopati, tumbuhan lain ini tidak diinginkan
keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian
tumbuhan pengganggu tanaman. Bedasarkan struktur kimianya herbisida dapat
dikenal sebagai herbisida anorganik dan organik. NaCL, H2SO4 dan CuSO4
merupakan contoh herbisida anorganik. Sedangkan Glifosat Melolakhlor dan
Alakhlor merupakan contoh herbisida
organik.
organik.
B. Tujuan
Tujuan dari
pembuatan makalah pengenalan herbisida ini adalah untuk mengetahui efisiensi
herbisida kontak dan sistematis
II. PEMBAHASAN
A.
Penggunaan Herbisida
Herbisida merupkan salah satu
pestisida yang berfungsi mengendalikan gulma. Untuk keperluan pengendaliannya,
gulma dibedakan menjadi 3 golongan.
1) gulma berdaun lebar, seperti Boreria alata, Chromolaena odorata, Mikania
sp.;
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens.
3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga.
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens.
3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga.
Herbisida purna-tumbuh yang
bersifat selektif dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, golongan
teki, dan beberapa jenis rumput. Keunggulan herbisida selektif ini adalah tidak
membahayakan beberapa jenis tanaman pokok yang disarankan pada labelnya. Jadi,
dengan menggunakan herbisida purna-tumbuh yang selektif, kita dapat mematikan
gulma tanpa harus khawatir tanaman pokok rusak akibat semprotan herbisida.
Gulma yang tidak dapat dibasmi
dengan herbisada selektif dapat dikendalikan dengan herbisida purna tumbuh yang
berspektrum luas dan mampu membunuh hampir semua tumbuhan. Jika menggunakan
herbisida ini diantara tanaman pokok yang telah tumbuh, penyemprotannya harus
dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena kabut semprotnya dapat mematikan
tanaman utama
Herbisida dibagi menjadi dua yaitu
herbisida kontak dengan herbisida sistemis. Herbisida kontak adalah herbisida
yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena
larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida
jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas
gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak
meluas. Jaringan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang
ditranslokasikan. Jika ada, bahan tersebut ditranslokasikan melalui phloem.
Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan gulma dapat
terjadi sangat cepat. Dengan demikian,rotasi pengendalian menjadi singkat.
Herbisida kontak memerlukan dosis dan
air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan
gulma dan diperoleh efek pengendalian aktifnya yang lebih baik. Herbisida
kontak juga yang bekarja dengan cara menghasilkan radikal hidrogen peroksida
yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh konfigurasi sel. Herbisida
kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup yan terkena larutan, jadi bagian
tanaman dibawah tanah seperti akar atau akar rimpang tidak terpengaruhi, dan
bagian tanaman didapat kembali dan diproses kerja pada herbisida ini pun sangat
cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama
bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Keistimewaannya, dapat
membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudan layu dan 2-3
hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera
dilakukan. Kelemahannya, gulma akan tumbuh secara cepat sekitar 2 minggu
kemudian dan herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses kerjanya tidak
berpengaruh pada gulma. Contoh herbisida kontak adalah paraquat.
Herbisida
sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan keseluruh tubuh
atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya.
Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman
pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman
yang terkena, namun bekerja dengan cara mengganggu proses fisiologi jaringan
tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan
sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas, sampai keperakarannya.
Keistimewaannya, dapat mematikan tunas – tunasyang ada dalam tanah, sehingga
menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya hampir sama merata ke
seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian,
proses pertumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi
pengendalian dapat lebih lama. contoh
: Herbisida Sistemik : Rambo Gold 480SL
B. Cara
kerja Herbbisida
Pada umumnya
herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting
seperti pati, asam lemak atau
asam amino
melalui kompetisi dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut.
Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi
kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain
adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang
diperlukan tumbuhan.
Contoh:
l glifosat
(dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena
berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
l fosfinositrin
mengganggu asimilasi nitrat dan amonium
karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.
C.
Kritik atas pemakaian herbisida
Pemakaian
herbisida menuai kritik karena menyebarkan bahan kimia yang berbahaya bagi
tumbuhan bukan sasaran. Meskipun sebagian besar herbisida masa kini tidak
berbahaya bagi manusia dan hewan, herbisida yang tersebar (karena terbawa angin
atau terhanyut air) berpotensi mengganggu pertumbuhan tumbuhan lainnya. Karena
itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah terurai oleh mikroorganisme di
tanah atau air.
Kritik
lainnya ditujukan pada pemakaian tanaman transgenik tahan herbisida tertentu.
Meskipun dapat menekan biaya, teknologi ini bermotifkan komersial (meningkatkan
penggunaan herbisida merek tertentu). Selain itu, teknologi ini dianggap tidak
bermanfaat bagi pertanian non mekanik (pertanian dengan padat karya) atau
berlahan sempit.
Pestisida selain bermanfaat, juga menghasilkan dampak lingkungan.
Disamping bermanfaat untuk meningkatkan hasil pertanian, ia juga menghasilkan
dampak buruk baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Lebih dari 98% insektisida dan 95% herbisidamenjangkau tempat selain yang
seharusnya menjadi target, termasuk spesies non-target, perairan, udara,
makanan, dan sedimen. Pestisida dapat menjangkau dan mengkontaminasi lahan dan
perairan ketika disemprot secara aerial, dibiarkan mengalir dari permukaan
ladang, atau dibiarkan menguap dari lokasi produksi dan penyimpanan. Penggunaan
pestisida berlebih justru akan menjadikan hama dan gulma resistan terhadap pestisida
Tumbuhan
Penyemprotan
pestisida pada tanaman
Pestisida
menghalangi proses pengikatan nitrogen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Insektisida DDT, metil paration, dan pentaklorofenol diketahui mengganggu hubungan kimiawi antara tanaman legum
dan bakteri rhizobium. Dengan berkurangnya hubungan simbiotik antara keduanya
menyebabkan pengikatan nitrogen menjadi terganggu sehingga mengurangi hasil
tanaman pertanian. Bintil akar
pengikat nitrogen yang terbentuk pada tanaman ini diketahui telah berkontribusi
US$ 10 miliar setiap tahunnya dalam penghematan pupuk nitrogen
sintetis.
Pestisida
dapat membunuh lebah dan berakibat buruk terhadap proses penyerbukan tumbuhan, hilangnya spesies tumbuhan yang bergantung pada
lebah dalam penyerbukannya, dan keruntuhan koloni lebah. Penerapan pestisida
pada tanaman yang sedang berbunga dapat membunuh lebah madu
yang akan hinggap di atasnya. USDA dan USFWS memperkirakan petani di Amerika Serikat kehilangan
setidaknya US$ 200 juta per tahunnya akibat berkurangnya polinator untuk
tanaman mereka. Di sisi lain, pestisida juga memiliki dampak langsung yang
merugikan bagi tumbuhan, seperti rendahnya pertumbuhan rambut akar, penguningan
tunas, dan terhambatnya pertumbuhan.
III. PENUTUP
- Kesimpulan
Penggunaan
pestisida kontak dan sistemis mempunyai keuntungan masing – masing yang
tergantung atas kebutuhanya dan dihrapkan dengan pengetahuan yang cukup ini
kita dapat mengetahui cara kerja dan efek yang akan ditimbulkan dari aplikasi
herbisida ini.
B.
Saran
Sebelum dilakukan pengendalian terhadap gulma, terlebih dahulu perlu
kita mengenali terlebih dahulu herbisida yang akan digunakan agar sesuai dengan
apa yang kita harapkan. Selain itu perlu juga kita mengetahui penggolongan dari
gulma agar dapat ditentukan herbisida yang tepat untuk penggunaannya, dan waktu
pemberiannya.
DAFTAR PUSTAKA
·
Rukmana, R. Dan S.
Saputra.1999. Gulma dan Teknik Pengendaliannya.Kanisius. Yogyakarta
·
Nasution, U. 1986.
Gulma dan Pengendaliannya Diperkebunan Karet Sumatra Utara dan Aceh. PT.
Granmedia, Jakarta, 269 hal.
·
Sukman, Y. Dan
Yakub.1991. Gulma dan Teknis Pengendaliannya.Rajawali. Jakarta
PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN
TUJUAN
teknologi
penyiapan bibit yang singkat, tidak memakan tempat dan berkualitas tentunya.
Adapun teknik pembibitan yang dapat menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi
serta tidak memerlukan penyiapan bibit melalui kebun berjenjang adalah dengan
teknik pembibitan bud chip.
Bud
chip adalah
teknik pembibitan tebu secara vegetatif yang menggunakan bibit satu mata. Bibit
ini berasal dari kultur jaringan yang kemudian ditanam di Kebun Bibit Pokok
(KBP). Bibit yang di gunakan berumur 5 - 6 bulan, murni (tidak tercampur dengan
varietas lain), bebas dari hama penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik.
Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2012 di Pusat Penelitian Gula PTPN X
(Persero).
ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
cangkul, chisel mortisier (alat pemotong batang tebu), hot water
treatment (HWT), alat steam media tanam, tray, penggaris, oven, alat tulis,
kamera, leaf area meter (LAM) dan jangka sorong.
Bahan yang digunakan
antara lain tanaman tebu varietas PS 92-750, VMC 76-16 dan PS 862, tanah,
pasir, kompos blotong N10, fungisida, insektisida dan ZPT.
CARA
KERJA
1.
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah percobaan Faktorial yang disusun secara acak kelompok. Percobaan ini
terdapat 2 faktor, Faktor 1 ialah varietas (V) yang terdiri dari 3 macam, yaitu
: (V1)Varietas PSJK 922, (V2)Varietas PS 862, (V3) Varietas VMC 76-16.
Sedangkan faktor 2 ialah media tanam (M) dengan komposisi tanah : kompos :
pasir yang terdiri dari 3 macam, yaitu : (M1) (10% : 70% : 20%, (M2) (70% : 20%
: 10%) , (M3) (20% : 10% : 70%).
2.
Pengamatan
dilakukan pada tiap tray perlakuan dengan 4 sampel non destruktif dan 18
tanaman destruktif. Parameter pengamatan non destruktif meliputi diameter
batang, tinggi tanaman, jumlah ruas batang dan jumlah daun. Parameter
pengamatan destruktif meliputi luas daun, bobot segar total tanaman dan bobot
kering total tanaman. Data pengamatan yang diperoleh dianalis menggunakan
analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata (F hitung
> F tabel 5%), maka akan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.
HASIL PENGAMATAN
Tabel 1 Rerata
Tinggi Tanaman (cm tan-1) akibat Interaksi antara Perlakuan Komposisi Media
Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 hst
|
Perlakuan
|
Rerata Tinggi Tanaman (cm)
|
||||
|
|
M2
|
M3
|
|||
|
V1
|
14,17c
|
8,83ab
|
12,58bc
|
||
|
V2
|
8,75ab
|
9,29b
|
11,29bc
|
||
|
V3
|
7,25ab
|
9,29b
|
4,37a
|
||
|
BNT 5%
|
4,54
|
||||
Keterangan
: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan uji BNT taraf 5%;
hst = hari setelah transplanting;
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
Tabel 2 Rerata
Jumlah Daun akibat Interaksi antara Komposisi Media Tanam dan Varietas pada
Umur Pengamatan 70, 80 dan 90 hst
|
Umur
|
Varietas
|
Rerata Jumlah Daun
|
|||||||
|
M1
|
M2
|
M3
|
|||||||
|
70 hst
|
V1
|
6,68c
|
4,75b
|
4,95b
|
|||||
|
V2
|
3,75b
|
5,08b
|
4,83b
|
||||||
|
V3
|
4,67b
|
4,912b
|
1,83a
|
||||||
|
BNT 5%
|
1,39
|
||||||||
|
80 hst
|
V1
|
7,00b
|
4,92b
|
5,83b
|
|||||
|
V2
|
3,92a
|
5,67b
|
5,58b
|
||||||
|
V3
|
5,42b
|
5,00b
|
1,83a
|
||||||
|
BNT 5%
|
2,45
|
||||||||
|
90 hst
|
V1
|
7,67d
|
5,92bcd
|
5,75bcd
|
|||||
|
V2
|
4,33b
|
6,17bcd
|
6,92cd
|
||||||
|
V3
|
5,83bcd
|
5,42bc
|
1,83a
|
||||||
|
BNT 5%
|
2,2
|
||||||||
Keterangan : Nilai yang
diikuti huruf yang sama pada kolom dan umur yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah
transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
Diameter
Batang
Hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa tebu varietas PSJK 922, PS 862 dan VMC 76-16 dengan perlakuan
komposisi media tanam tidak terjadi interaksi terhadap diameter batang pada
beberapa umur.
Tabel 3 Rerata Jumlah Ruas Batang akibat Interaksi Komposisi
Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 dan 90 hst.
|
Umur
|
Varietas
|
Rerata Jumlah Ruas Batang
|
|||||||
|
M1
|
M2
|
M3
|
|||||||
|
70 hst
|
V1
|
3,33c
|
2,33b
|
2,75bc
|
|||||
|
V2
|
2,75bc
|
2,67bc
|
2,58bc
|
||||||
|
V3
|
2,42bc
|
2,67bc
|
1,00a
|
||||||
|
BNT 5%
|
0,85
|
||||||||
|
90 hst
|
V1
|
3,58b
|
3,42b
|
3,08b
|
|||||
|
V2
|
2,75b
|
3,67b
|
3,58b
|
||||||
|
V3
|
3,67b
|
3,50b
|
1,00a
|
||||||
|
BNT 5%
|
1,42
|
||||||||
Keterangan : Nilai yang
diikuti huruf yang sama pada kolom dan umur yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah
transplanting;
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
Tabel 4 Rerata Luas Daun (cm2
per tananam) akibat Interaksi
Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 80 dan 90 hst
|
Umur
|
Varietas
|
Rerata Jumlah Luas Daun
|
|||||||
|
M1
|
M2
|
M3
|
|||||||
|
80 hst
|
V1
|
144,91c
|
119,52b
|
102,53b
|
|||||
|
V2
|
103,35b
|
116,13b
|
120,20b
|
||||||
|
V3
|
121,01b
|
111,64b
|
52,08a
|
||||||
|
BNT 5%
|
23,53
|
||||||||
|
90 hst
|
V1
|
166,68d
|
127,45bc
|
114,93b
|
|||||
|
V2
|
133,66bcd
|
150,64cd
|
124,16bc
|
||||||
|
V3
|
171,93d
|
149,36bcd
|
52,08a
|
||||||
|
BNT 5%
|
34,86
|
||||||||
Keterangan : Nilai yang
diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan
uji BNT taraf 5%
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862
V3 = VMC 76-16
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
Bobot
Segar Total Tanaman
Hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa tebu varietas PSJK 922, PS 862 dan VMC 76-16 dengan perlakuan
komposisi media tidak terjadi interaksi terhadap rerata bobot segar total
tanaman pada berbagai umur pengamatan.
Tabel 5 Rerata Bobot Kering Total Tanaman (g per tananam)
akibat Interaksi Komposisi Media Tanam dan Varietas pada Umur Pengamatan 70 hst
Keterangan : Nilai yang
diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan
uji BNT taraf 5%;
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862;
V3 = VMC 76-16;
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
hst = hari setelah transplanting
V1 = PSJK 922
V2 = PS 862;
V3 = VMC 76-16;
M1 = Tanah : Kompos : Pasir (10% : 70% : 20%)
M2 = Tanah : Kompos : Pasir (70% : 20% : 10%)
M3 = Tanah : Kompos : Pasir (20% : 10% : 70%)
|
Perlakuan
|
Rerata Berat Kering Total Tanaman
|
||||
|
M1
|
M2
|
M3
|
|||
|
V1
|
5,06c
|
3,17b
|
3,28b
|
||
|
V2
|
3,50b
|
3,85b
|
3,18b
|
||
|
V3
|
2,56ab
|
2,53ab
|
2,15a
|
||
|
BNT 5%
|
0,95
|
||||
PEMBAHASAN
Pertumbuhan tanaman
merupakan fungsi dari genotip dan lingkungan. Interaksi antara genotip dan
lingkungan menunjukkan bahwa ada pengaruh antara komposisi media tanam (tanah :
pasir : kompos) dan varietas.
Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara komposisi media tanam
dan varietas terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas batang, luas
daun dan bobot kering total tanaman. Hal tersebut dikarenakan sifat dan fungsi
dari komposisi media tanam berbeda.
Dalam budidaya tanaman
tebu, bagian tanaman yang paling utama ialah batang. Selain dapat diamati
tinggi tanaman, bagian batang juga dapat diamati diameter batang dan jumlah
ruas batang. Hasil penelitian berdasarkan analisis ragam menunjukkan kombinasi
perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata tinggi tanaman lebih tinggi (Tabel 1).
Hal tersebut diduga karena pada komposisi media M1 dengan prosentase tanah :
kompos : pasir (10% : 70% : 20%) mengandung aplikasi kompos blotong yang lebih
banyak sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin untuk tanaman terpenuhi. Menurut
Brady (1990) bahwa bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan
zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman
seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui
dekomposisi bahan organik. Kompos blotong adalah bahan organik yang mengandung
unsur N tinggi. Unsur N dibutuhkan tanaman dalam merangsang proses pertumbuhan
vegetatif tebu secara keseluruhan (batang, cabang, daun) sehingga dibutuhkan dalam
jumlah besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan unsur nitrogen dalam
kompos dimanfaatkan tanaman tebu dalam mempengaruhi pertambahan tinggi tanaman.
Daun ialah organ utama
fotosintesis pada tanaman. Meningkatnya jumlah daun tidak terlepas dari adanya
aktifitas pemanjangan sel yang merangsang terbentuknya daun sebagai organ
fotosintesis terutama pada tanaman tingkat tinggi (Gardner et al, 1991).
Semakin banyak jumlah daun mengakibatkan tempat fotosintesis bertambah sehingga
fotosintat yang dihasilkan juga semakin meningkat. Fotosintat tersebut
didistribusikan ke organ-organ vegetatif tanaman sehingga memacu pertumbuhan
tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan umur 70, 80 dan 90
hst (Tabel 2) terdapat interaksi antara perlakuan V1 dan M1. Kombinasi
perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata jumlah daun lebih tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa pemberian kompos blotong dengan prosentase yang lebih banyak
mampu memberikan unsur nitrogen bagi tanaman. Dimana fungsi nitrogen bagi tanaman
ialah sebagai pembentuk zat hijau daun, penyusun protein dan lemak. Adanya
unsur nitrogen yang banyak di dalam tanaman digunakan oleh daun untuk
berfotosintesis. Sehingga menghasilkan jumlah daun yang banyak, luas daun besar
dan memperluas permukaan yang tersedia untuk fotosintesis. Apabila proses
fotosintesis berjalan dengan baik maka fotosintat yang dihasilkan juga semakin
meningkat untuk ditranslokasikan pada bagian tanaman yang lain. Hasil
penelitian juga menunjukkan bahwa pada pengamatan
umur 80 dan 90 hst (Tabel 2) terdapat pengaruh nyata antara varietas dan media
tanam pada variabel luas daun. Pada pengamatan umur 80 dan 90 hst, perlakuan V1
dan M1 menghasilkan rerata luas daun lebih tinggi. Menurut Anonymous (2011)
bahwa varietas PSJK 922 memiliki sifat daun yang sulit dikelentek sehingga
mempengaruhi jumlah fotosintat yang dihasilkan. Hal ini juga membuktikan bahwa
komposisi media M1 dengan perbandingan tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%)
baik digunakan sebagai media tanam karena mampu menyediakan unsur nitrogen yang
dapat membantu tanaman untuk menghasilkan fotosintat yang sangat diperlukan
dalam pertumbuhan tanaman.
Pertumbuhan pada
tumbuhan adalah faktor kompleks yang dipengaruhi oleh faktor internal dan
faktor eksternal (Syiraini, 2011). Pertumbuhan tanaman tebu diawali dengan
munculnya mata tunas. Mata tunas ialah kuncup tebu yang terletak pada buku-buku
ruas batang. Kuncup ini tumbuh dari pangkal ke ujung batang yang tumbuh di
sebelah kanan dan kiri batang berganti-ganti dan selalu terlindung oleh pangkal
pelepah daun. Tunas yang tumbuh berpeluang menjadi batang tebu baru. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada umur pengamatan 70 dan 90 hst (Tabel 3)
terdapat interaksi pada variabel jumlah ruas batang lebih tinggi pada perlakuan
M1 pada semua varietas.
Selain bobot basah
total tanaman, parameter pertumbuhan tanaman juga dapat diamati melalui bobot
kering total tanaman. Terdapat interaksi pada parameter bobot kering total
tanaman terhadap varietas dan komposisi media tanam pada umur pengamatan 70 hst
(Tabel 5). Kombinasi perlakuan V1 dan M1 nyata memiliki rerata nilai bobot
kering total tanaman lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
dari kedua faktor, baik dari faktor internal dan eksternal. Media tanam M1
memiliki komposisi tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) yang mampu
meningkatkan bobot kering total tanaman secara nyata, karena komposisi media
tanam yang tepat mengandung komposisi tanah : pasir dan kompos yang sesuai bagi
pertumbuhan tanaman. Disamping itu, prosentase kompos blotong yang tinggi
memberikan nutrisi yang cukup bagi tanaman. Menurut Suharno et. al. (1997),
pemberian blotong berpengaruh baik pada peningkatan bobot tebu. Varietas juga
memberikan pengaruh yang nyata dalam peningkatan bobot kering tanaman.
Sebaiknya pembibitan tebu (Saccharum officinarum L.) dengan teknik bud
chip ditanam pada media dengan komposisi media tanah : pasir : kompos (10%
: 20% : 70%) menggunakan varietas PSJK 922. Perlu diadakan penelitian lebih
lanjut dengan metode perlakuan setelah pembibitan dalam tray.
KESIMPULAN
Terdapat interaksi
antara komposisi media tanam dengan varietas terhadap tinggi tanaman, jumlah
daun, jumlah ruas batang, luas daun dan berat kering total tanaman. Pembibitan
tanaman tebu pada media dengan komposisi tanah : pasir : kompos (10% : 20% :
70%) menghasilkan nilai rerata diameter batang, jumlah ruas batang, luas daun,
bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman lebih tinggi
dibandingkan dengan komposisi tanah : kompos : pasir (70% : 20% : 10%) dan (20%
: 10% : 70%). Varietas PSJK 922 cocok ditanam pada media dengan komposisi tanah
: kompos : pasir (10% : 20% : 70%).
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.
2011.
Deskripsi Varietas Tebu. Kediri
Brady,
N. C. 1990.
The Nature and Properties of Soils. 10th Edition. pp. 621. Macmillan Publishing
Co., New York. http://yagipray.blogspot.com/ 2012/03/bahan-organik.html.
Diakses tanggal 20 Maret 2012.
Gardner,
P. F., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman
Budidaya.
Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta
Suharno, D., B.
Novianto, dan D. Syarifuddin. 1997.
Pengaruh
Langganan:
Komentar (Atom)